1. Pemuda
a) Hakikat Kepemudaan
Kiranya disadari bahwa ada berbagai fungsi tafsiran yang bisa diberikan terhadap pemuda /generasi muda. Untuk itu kiranya perlu diperjelas bahwa pengertian pemuda disini adalah mereka yang berumur diantara 15-30 tahun. Hal ini sesuai dengan pengertian pemuda/generasi muda sebagaimana yang dimaksudkan dengan pembinaan generasi muda dan dilaksanakan dalam Repelita IV.
Menurut pendekatan yang klasik ini, pemuda dianggap sebagai suatu kelompok yang mempunyai aspirasi sendiri yang bertentangan dengan aspirasi masyarakat, atau lebih tepat aspirasi orang tua atau generasi tua.
Dalam hal ini hakikat kepemudaan dicari atau ditinjau dari dua asumsi pokok :
1. Penghayatan mengenai proses perkembangan manusia bukan sebagai suatu kontinum yang sambung-menyambung tetapi fragmentaris, terpecah-pecah, dan setiap fragmen mempunyai artinya sendiri-sendiri. Oleh sebab itu, arti setiap masa perkembangan hanya dapat dimengerti dan dinilai dari masa itu sendiri. Masa kanak-kanak hanya dapat diresapi karena keanakanya, masa pemuda karena sifat-sifatnya yang khas pemuda, dan masa orang tua yang diidentikan dengan stabilitas hidup dan kemapanan.
2. Merupakan tambahan dari asumsi wawasan kehidupan, yaitu posisi pemuda dalam arah kehidupan itu sendiri. Tafsiran-tafsiran klasik didasarkan pada anggapan bahwa kehidupan mempunyai pola yang banyak sedikitnya sudah ditentukan oleh mutu pemikiran yang diwakili oleh generasi tua yang tersembunyi dibalik tradis.
Ciri utama dari pendekatan ini melingkup dua unsur pokok yaitu:
Ø unsur lingkungan atau ekologi sebagai keseluruhan
Ø unsur tujuan yang menjadi pengaruh dinamika dalam lingkungan itu.
Dua hal yang menonjol dari pendekatan ekosferis ini. Pertama, kepemudaan dan kehidupan orang dewasa dan anak-anak merupakan suatu totalitas. Dengan demikian tidak ada pertentangan antara pemuda, orang dewasa (generasi tua) dan anak-anak, secara fundamental.
Disini terletak makna kedua dari pendekatan ekosferis bahwa baik apa yang menggolongkan diri generasi tua maupun generasi muda dan anak-anak, semuanya dalam status yang sama ialah menghadapi atau berada dalam satu kesatuan wawasan kehidupan.
b) Pemuda dan Identitas
Menurut pola dasar pembinaan dan pengembangan generasi muda bahwa permasalahan generasi muda dapat dilihat dari beberapa aspek sosial, yakni :
Ø Sosial Psikologi
Proses pertumbuhan dan perkembangan kepribadian serta penyesuaian diri secara jasmani dan rohaniah sejak dari masa kanak-kanak sampai usia dewasa dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti keterbelakangan jasmani dan mental, salah asuh oleh orang tua/keluarga maupun guru-guru dilingkungan sekolah, pengaruh negatif dari lingkungan pergaulan sehari-hari oleh teman sebayanya. Hambatan-hambatan tesebut diatas memungkinkan timbulnya kenakalan remaja, ketidak patuhan kepada orang tua dan guru, kecanduan pada narkotika dan lain-lain yang semuanya itu merupakan gejala-gejala yang perlu memperoleh perhatian dari semua pihak.
Ø Sosial budaya
Kaum muda perkembangannya ada dalam proses pembangunan dan modernisasi dengan segala akibat sampingnya yang bisa mempengaruhi proses pendewasaan, sehingga apabila tidak memperoleh arah yang jelas, maka corak dan warna masa depan negara dan bangsa akan menjadi lain dari pada yang dicita-citakan. Benturan antara nilai-nilai budaya tradisional dengan nilai-nilai baru yang cenderung menimbulkan pertentangan antara sesama generasi muda dan generasi sebelumnya yang pada gilirannya akan menimbulkan perbedaan sistem nilai dan pandangan antara generasi tua dan generasi muda.
Ø Sosial Ekonomi
Pertambahan jumlah penduduk yang cepat dan belum meratanya pembangunan dan hasil-hasil pembangunan mengakibatkan makin bertambahnya pengangguran di kalangan pemuda, karena kurangnya lapangan kerja dan menimbulkan berbagai problem social serta frustasi di kalangan kaum muda. Demikian juga sistem pendidikan tidak mampu menjawab tantangan kebutuhan pembangunan.
Ø Sosial Politik
Dalam kehidupan sosial politik aspirasi pemuda berkembang dan cenderung mengikuti pola infra struktur politik yang hidup dan berkembang pada suatu periode tertentu. Akibatnya makin dirasakan bahwa dikalangan pemuda masih ada hambatan-hambatan untuk menumbuhkan suatu orientasi baru yakni pemikiran untuk menjangkau kepentingan nasional dan bangsa diatas segala kepentingan lainnya.
c) Peranan Pemuda dalam Masyarakat
Peranan pemuda dalam masyarakat dibedakan atas dua hal, yaitu:
1) peranan pemuda yang didasarkan atas usaha pemuda untuk menyesuaikan diri dengan tuntunan lingkungan, dibedakan atas:
Ø peranan pemuda sebagai individu-individu yang meneruskan tradisi dan yang oleh sebab itu dengan sendirinya berusaha mentaati tradisi yang berlaku, kebudayaan yang berlaku dalam tingkah laku perbuatan masing-masing.
Ø peranan pemuda sebagai individu-individu yang berusaha menyesuaikan diri, baik dengan orang-orang atau golongan yang berusaha mengubah tradisi, dengan demikian akan terjadi perubahan dalam tradisi masyarakat.
2) Peranan pemuda yang menolak untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya, dibedakan atas:
Ø Jenis pemuda urakan
Yaitu jenis pemuda yang tidak bermaksud untuk mengadakan perubahan dalam masyarakat, tidak ingin untuk mengadakan perubahan dalam kebudayaan, akan tetapi ingin kebebasan bagi dirinya sendiri, kebebasan untuk menentukan kehendak diri sendiri.
Ø Jenis pemuda nakal
Pemuda-pemuda inipun tidak ingin, tidak berniat dan tidak bermaksud untuk mengadakan perubahan dalam masyarakat ataupun kebudayaan, melainkan berusaha memperoleh manfaan dari masyarakat dengan melakukan tindakan yang mereka anggap menguntungkan dirinya tetapi merugikan masyarakat.
Ø Jenis pemuda radikal
Pemuda-pemuda radikal berkeinginan untuk mengadakan perubahan revolusioner.
2. Sosialisasi
a) Pengertian Sosialisasi
Sosialisasi adalah proses melalui mana seorang anak belajar menjadi seorang anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat. Yang diajarkan melalui sosialisasi adalah peran-peran, oleh karena itu teori sosialisasi sejumlah tokoh sosiologi merupakan teori mengenai peran (role theory).
b) Teori George Herbert Mead
Teori tentang sosialisasi diuraikan dalam bukunya yang berjudul Mind, Self, and Society. Ia menguraikan tahap pengembangan diri atau (self), di mana manusia yang baru lahir belum mempunyai diri. Diri manusia berkembang secara bertahap melalui interaksi dengan anggota masyarakat lain. Menurutnya pengembangan manusia berlangsung melalui beberapa tahap, yaitu
Ø Play Stage
Di mana seorang anak kecil mulai belajar mengambil peran orang di sekitarnya, tetapi mereka tidak memehami makna kegiatan yang dilakukan orang lain.
Ø Game Stage
Di mana seorang anak tidak hanya telah mengetahui peran yang harus dijalankan oleh orang lain dengan siapa ia berinteraksi.
Ø Generalized Other
Di mana seorang anak telah mampu menganbil peran-peran yang dijalankan orang lain dalam masyarakat, karena telah mampu memahami peranannya sendiri serta peran orang lain dengan siapa ia berinteraksi.
c) Teori Charles Horton Cooley
Menurutnya, konsep diri seseorang berkembang melalui interaksinya dengan orang lain. Diri yang berkembang melalui interaksi dengan orang lain ini disebut Looking Glass Self. Nama demikian diberikan karena ia melihat analogi antara pembentukan diri seseorang dengan perilaku orang yang sedang bercermin, yakni memantulkan apa yang terdapat di depannya.
Looking glass self terbentuk dalam tiga tahap:
Ø Tahap pertama, seseorang mempunyai persepsi mengenai pandangan orang lain terhadapnya.
Ø Tahap kedua, seseorang mempunyai persepsi mengenai penilaian orang lain terhadap penampilannya.
Ø Tahap ketiga, seseorang mempunyai perasaan terhadap apa yang dirasakannya sebagai penilaian orang lain terhadapnya itu.
d) Agen sosialisasi
Agen sosialisasi adalah kegiatan sosialisasi selama hidup yang diadakan dalam setiap masyarakat oleh individu-individu atau kelompok, organisasi, dan institusi.
1. Keluarga
Keluarga merupakan agen yang paling terpenting dari semua agen sosialisasi. Keluarga biasanya memberikan tanggung jawab mensosialisasikan anak-anak dari lahir hingga remaja. Keluarga juga menyediakan kontek sosial untuk belajar mengenai nilai-nilai.
2. Teman Bermain (peer group)
Peer group biasanya terdiri dari teman-teman yang seumur serta memiliki status sosial yang kurang lebih sama, yang akan berpengaruh pada pembentukan perilaku dan nilai-nilai anak.
3. Sekolah
Sekolah merupakan agen sosialisasi yang bertanggung jawab mengajarkan keterampilan kognitif formal bahkan yang sifatnya informal sekalipun.
4. Media Massa
Media massa merujuk kepada komunikasi yang disebarkan kepada audien secara luas dengan tanpa timbal balik secara langsung maupun kontak personal antara pengirim komunakasi maupun penerima.
e) Pola Sosialisasi
Pola sosialisasi terbagi menjadi dua bagian, yaitu :
1. Sosialisasi Referensif (referenssive socialization), yang menekankan pada penggunaan hukuman terhadap kesalahan.
2. Sosialisasi Partisipatoris ( participatory socialization), pola yang di dalamnya anak diberi imbalan manakala berperilaku baik; hukuman dan imbalan yang bersifat simbolik; anak diberi kebebasan; komunikasi bersifat lisan; anak menjadi pusat sosialisasi; keperluan anak dianggap penting; keluarga menjadi generalized others.
3. Kesimpulan
Pemuda adalah satu identitas yang potensial sebagai penerus cita-cita perjuangan bangsa dan sumber insani nagi pembangunan negara, bangsa dan agama. Selain itu, pemuda mempunyai peran sebagai pendekar intelektual dan sebagai pendekar sosial, yaitu bahwa para pemuda selain mempunyai ide-ide atau gagasan yang perlu dikembangkan juga berperan seagai pembangun negara dan bangsa ini. Sehingga sering dikatakan pemuda merupakan Generasi Penerus Bangsa.
Oleh karena itu, pemuda harus mempunyai ilmu yang tinggi dan budi pekerti yang luhur dengan cara sekolah atau dengan proses sosialisasi lainnya. Karena sosialisasi merupakan kebutuhan manusia sebagai mkhluk sosial yang saling keterkaitan dan saling membutuhkan.